Notification texts go here Contact Us Buy Now!
المشاركات

Contoh Local Wisdom (Kearifan Lokal) Dalam Praktik Bisnis di Indonesia

Contoh Local Wisdom (Kearifan Lokal) Dalam Praktik Bisnis di Indonesia

Dalam bahasa inggris, istilah kearifan lokal disebut dengan kata Local Wisdom. Local berarti setempat dan Wisdom berarti kearifan atau kebijaksanaan. Menurut Samudra (2010:2) kearifan lokal merupakan gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat. Meliono (2011:227) dalam tulisannya “Understanding the Nusantara Thought and Local Wisdom as an Aspect of the Indonesian Education” menyebutkan bahwa kearifan lokal Indonesia merupakan bentuk ekspresi dari suku-suku yang ada di Indonesia, dimana orang-orang melakukan kegiatan dan berilaku sesuai dengan gagasan yang akhirnya menghasilkan karya-karya tertentu. Sebagai contoh adalah Candi Borobudur, Candi Prambanan, Pengairan Subak sawah di Bali, Batik, dan lain sebagainya. Jadi kearifan lokal dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan, aturan, dan nilai-nilai sebagai hasil dari upaya kognitif yang dianut oleh masyarakat yang dianggap baik dan dilaksanakan serta dipatuhi oleh masyarakat tersebut.

Gagasan kearifan lokal tersebut dapat terwujud ke dalam berbagai bentuk, mulia dari bentuk, kebiasaan, aturan, nilai, tradisi, bahkan agama yang dianut masyarakat. Secara substansi kearifan lokal dapat berupa aturan mengenai kelembagaan dan sanksi sosial, ketentuan tentang pemanfaatan ruang dan perkiraan musim untuk bercocok tanam, pelestarian dan perlindungan terhadap kawasan sensitif, serta bentuk adaptasi dan mitigasi tempat tinggal terhadap iklim, bencana atau ancaman lainnya (Tama, 2012). Kearifan lokal dapat disimpulkan bahwa merupakan cerminan dari bagaimana masyarakat memandang dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Mungmachon (2012:176) menyebutkan bahwa kearifan lokal merupakan pengetahuan dasar yang diperoleh dari hidup dalam keseimbangan dengan alam. Hal ini berkaitan dengan budaya masyarakat yang berdampingan dan berhubungan dengan alam. Jadi karakteristik penting dari kearifan lokal adalah sesuatu yang berasal dari pengelaman atau kegiatan yang diperoleh dari kehidupan masyarakat.

Tama (2012) menjelaskan tentang fungsi penting dari kearifan lokal adalah untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut Samudra (2010:5) menyebutkan fungsi kearifan lokal adalah sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan, bermakna sosial, bermakna etika, dan moral, bermakna politik, serta bermakna otonom karena memiliki nilai sakral untuk mendorong daerah menuju masyarakat yang otonom. Berikut adalah beberapa contoh fungsi kearifan lokal dalam bidang konservatif sumber daya alam misalnya adalah tradisi menyatu dengan alam ala Suku Dayak Losarang Indramayu Jawa Barat, tradisi ikan dewa di Cigugur Jawa Barat, pelestarian hutan dan sumber daya mata air oleh masyarakat Kampung Kuta Kabupaten Ciamis Jawa Barat, tradisi Bau Nyale (membatasi perburuan cacing lau) di Lombok NTB, tradisi Mepasah (mencegah penebangan pohon Taru Menyan) di Desa Trunyan Bali, dan masih banyak lagi.

Globalisasi merupakan proses masuknya budaya luar yang dapat mengganggu atau mengganti budaya asli Indonesia. Tidak dapat dipungkiri gelombang globalisasi dapat memunculkan kekhawatiran masyarakat bagi kehidupan khususnya mengubah tatanan kearifan lokal di masyarakat. Namun, setelah mengalami proses tidak semua pengarih globalisasi dapat mengubah nilai asli kearifan lokal masyarakat yang dipegang dan sesuai dengan budaya Indonesia. Misalnya Masyarakat Jepang dan Masyarakat Bali, kedua wilayah ini sangat berbeda, bukannya meredup dengan nilai-nilai budayanya namun justru memiliki kekuatan dan keunikan pada bidang masing-masing yang menonjol. Jepang merupakan negara paling maju di Asia yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi sedangkan Bali merupakan wilayah yang berkembang melalui industri pariwisata yang sudah diakui didunia.

Kedua contoh diatas menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat dijadikan sebagai sumber etika bisnis. Pada kenyataannya beberapa daerah Indonesia kearifan lokal makin lama makin memudar digantikan oleh nilai global. Meskipun demikian terkadang nilai global tidak cocok dan berlawan dengan nilai lokal. Penelitian mengenai hal ini perlu dilakukan secara menyeluruh lagi, khususnya dari sudut pandang ekonomi bisnis. Namun yang paling penting adalah bagaimana cara mensosialisasikan nilai tersebut pada generasi muda sehingga tidak lenyap ditelan perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan sekarang sudah banyak perusahaan yang telah go global namun tetap memegang prinsip “Think Globallly, Act Locally”. Berfikir gloal, bertindak menurut nilai-nilai kearifan local adalah pedoman yang dianut oleh perusahaan-perusahaan multinasional dalam bisnis.

Kearifan lokal memberikan norma dan nilai yang di pegang oleh masyarakat dalam beringkah laku sehari hari yang kemudian di implementasikan ke praktik bisnis. Bisnis merupakan kegiatan yang strategi dalam sebuah masyarakat. Bisnis merupakan seluruh aktivitas yang terorganisir dalam bidang perniagaan dan industri barang atau jasa yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat. Proses pencapaian tujuan bisnis dapat melalu pengelolaan sumber daya ekonomi yang meliputi manusia dan lingkungan secara optimal dengan memperhatikan kepentingan dan manfaat pemilik sumber daya. Kearifan lokal di masing-masing suku bangsa Indonesia dapat dijadikan sebagai sumber nilai yang berperan aktif dalam mengikuti budaya global. Kearifan lokal dapat menjadi sumber nilai dalam membangun elemen-elemen modal sosial dan modal bisnis, diantaranya adalah kepercayaan (mutual trust) dan jaringan (networks). Trust atau kepercayaan merupakan sebagai bentuk keteraturan, kejujuran, dan perilaku kooperatif dari suatu kelompok yang berdasarkan pada norma-norma yang dianut oleh seluruh anggota kelompok (Hanum, 2015). Nilai-nilai kearifan lokal berperan sebagai way of life pada masyarakat yang dapat menjadi dasar dalam membangun rasa percaya dan saling menghormati antar masyarakat. Kearifan lokal memiliki banyak nilai-nilai bijaksana yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup dengan jaringan sosial yang berdampak pada bisnis.

Kearifan lokal adalah budaya luhur yang sesuai dengan nilai dan etika serta menghasilkan kecerdasan lokal dalam berkarya. Indonesia kaya akan khasanah seni dan budaya yang salah satunya adalah nilai, kebiasaan, dan tradisi yang membentuk kearifan lokal. Banyak nilai yang berkaitan dengan tatanan sosial budaya masyarakat yang menciptakan keteraturan. Dari uraian pemahaman tentang kearifan lokal dan praktik bisnis di Indonesia, kita bisa mengambil salah satu contoh kearifan lokal Indonesia yang ada di masyarakat. Sebagai contoh adalah kearifan lokal masyarakat Jawa yang terkenal dengan adanya akulturasi antar berbagai budaya lokal dan religi. Pada masyarakat Jawa sering kali mendengar ungkapan yang popular dan menjadi salah satu produk kearifan lokal dalam hal kepemimpinan dan bisnis, yaitu ungkapan “Ing Ngarsa Sung tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” artinya seorang pemimpin harus bisa memberi contoh yang baik, membangun prakarsa atau ide dan kemauan, serta memberi dorongan atau motivasi kepada staf dan bawahan. Budiyanto (2019) dalam penelitian mengenai pengembangan ketahanan pangan berbasis pisang melalui revitalisasi nilai kearifan lokal di wilayah Kabupaten Lumajang, Malang, dan Blitar menjelaskan bahwa terdapat nilai kearifan lokal yang sangat mendukung dalam pengembangan bisnis pisang tersebut. Misalnya adalah adanya tradisi pemanfaatan pisang dalam acara kemantenan, sunatan, nyadran, maupun acara lain. Nilai-nilai kerja sama sebagai salah satu nilai penting dalam sebuah bisnis dapat dilihat dari kegiatan bisnis yang dilakukan dengan semangat gotong royong.

            Setyadi (2012) melakukan penelitian nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tembang Macapat bagi masyarakat Jawa. Beberapa nilai kearifan lokal yang berkaitan dalam praktik bisnis di Indonesia terbagi menjadi dua klasifikasi, yaitu klasifikasi permintaan dan klasifikasi larangan. Klasifikasi permintaan misalnya adalah hendaklah menjaga profesional, berusaha keras dalam meraih cita-cita, rajin dan teliti, sabar, berhati-hati dan cermat, musyawarah untuk pengambilan keputusan, tidak individualis, senang menimba ilmu dan belajar tekun, berhati-hati dalam mengambil keputusan, serta mencari kesempurnaan hidup. Sedangkan klasifikasi larangan misalnya tidak sombong, angkuh, dan congkak, tidak suka disanjung dan disuap maupun menyuap, tidak suka mengobral janji. Dan masih banyak lagi nilai kearifan lokal yang dapat diterapkan dalam praktik bisnis. Berikut adalah sedikit penjelasan ungkapan masyarakat Jawa yang biasa diterapkan dalam praktik bisnis.

1.      Prinsip “Guyup Rukun” membangun bisnis bersama

Prinsip “Guyup Rukun” antar masyarakat atau bisa disebut prinsip kerja sama dengan orang lain dalam melakukan bisnis, Praktik bisnis tidak dapat berjalan dengan sendirinya, melainkan dengan bantuan atau kerja sama pihak-pihak terkait seperti karyawan, investor pemerintah, masyarakat, lingkungan, dan lainnya. Bisnis juga tidak dapat dilakukan hanya dengan satu orang, perlu adanya orang lain yang membantu dalam seluruh proses praktik bisnis yang dijalankan.

2.      Prinsip “Ana Rego, Ana Rupo” (Ada harga, ada barang berkualitas)

Prinsip “Ana Rego, Ana Rupo” merupakan prinsip jual beli barang atau jasa antar penjual dan pembeli, dimana sesuatu produk bisnis baik barang atau jasa dapat menghasilkan profit yang sesuai dengan tujuan perusahaan harus dilakukan penjualan kepada konsumen. Ketika ada produk atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen pasti memiliki beragama jenis dan kualitas yang berbeda-beda. Sesuai dengan prinsip tersebut biasanya seorang pebisnis dalam memproduksi atau membeli bahan baku perusahaan harus memikirkan dengan matang kualitas dari barang atau jasa tersebut. Oleh karena itu, prinsip ini menyebutkan bahwa pembayaran dengan harga yang pantas sesuai dengan produk barang atau jasa yang ditawarkan.

3.      Prinsip” Rejeki sing Ngatur Gusti”

Prinsip” Rejeki sing Ngatur Gusti” adalah prinsip yang mencerminkan bahwa kearifan lokal Indonesia dipengaruhi oleh nilai religi yaitu nilai ketuhanan. Hal tersebut sesuai dengan implementasi dari Pancasila sila pertama “Ketuhahan yang Maha Esa”. Seorang pebisnis di Indonesia melakukan usaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kegiatan  bisnis yang dilaksanakan dengan tujuan keuntungan yang besar. Namun untuk hasil terakhir semua di pasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kepercayaan tertinggi masyarakat Indonesia.

4.      Prinsip “Gemi, Nastiti lan Ngati –ati”

Prinsip “Gemi, Nastiti lan Ngati –ati” berarti bertindak irit dan hati-hati dalam memakai atau memproduksi barang dan jasa. Ketelitian dan kehati-hatian dalam bisnis akan membuat seorang pebisnis mendapatkan profit yang maksimal dengan pengeluaran yang minimal. Prinsip ini diperlukan dalam bisnis yang menunjukkan sikap yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan, sekecil apa pun keputusan itu. Kesalahan dalam mengambil keputusan akan berdampak bagi kemajuan bisnis.

5.      Prinsip “Tata ,Titi,Titis dan Tatas”

Prinsip “Tata ,Titi,Titis dan Tatas” Prinsip ini merupakan mengatur pekerjaan dengan teliti supaya bisa tepat sasaran dan bisa diselesaikan dengan baik. Dalam praktik bisnis perlu prinsip manajemen yang baik, mulai dari perencanaan sampai dengan pengevaluasian. Prinsip ini adalah sebuah sikap tentang kehati-hatian dalam melakukan kegiatan bisnis dengan menerapkan nilai efektivitas dan efisiensi secara maksimal agar mencapai profit besar dari bisnis. Prinsip ini sangat penting dan berkaitan dengan prinsip sebelumnya yang menjadi kunci dalam melakukan sebuah bisnis.

Kearifan lokal adalah kebiasaan-kebiasaan, aturan, dan nilai-nilai sebagai hasil upaya pengalaman dan perilaku yang dianut dan dipercayai oleh masyarakat yang dianggap baik dan bijaksana serta dilaksanakan dan dipatuhi oleh masyarakat tersebut. Terdapat berbagai nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi landasan bagi berbagai praktik bisnis di Indonesia. Nilai tersebut bervariasi dan bersumber dari berbagai nilai dan suku bangsa Indonesia, baik pada masyarakat Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Minang, Daya, Bugis, hingga Papua.

About the Author

Suka menulis dan suka Acha

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.